Langsa, Sekretaris Kota Langsa, Ir Said Mahdum Majid, secara resmi meluncurkan desa wisata halal dan implementasi Wajib Halal Oktober (WHO) 2024, beserta awal pendampingan sertifikasi halal untuk 3.000 desa wisata di seluruh Indonesia. Acara tersebut berlangsung di ruang terbuka hijau hutan kota, Desa Paya Bujok Seuleumak, Kecamatan Langsa Langsa Baro, pada hari Sabtu (4/5).

“Pemerintah Kota Langsa, bersama dengan jajaran dan masyarakat Kota Langsa, mengucapkan selamat atas peluncuran implementasi Wajib Halal Oktober (WHO) 2024 dan awal pendampingan Sertifikasi Halal Serentak 3000 Desa Wisata di Kota Langsa pada tahun 2024,” kata Said.

Dia mengungkapkan rasa terima kasih kepada tim atas usaha mereka, berharap bahwa tujuan acara tersebut akan tercapai sebagaimana diharapkan.

Kota Langsa telah menjadi tujuan yang diminati baik oleh wisatawan lokal maupun internasional, dengan menawarkan keindahan alam yang luar biasa dengan berbagai atraksi termasuk tempat-tempat eksotis. Hal ini ditambah dengan kesatuan etnis dan budaya dalam bingkai Republik Indonesia.

Pariwisata memainkan peran penting dalam pembangunan Kota Langsa, dengan menawarkan 12 destinasi wisata unggulan, mulai dari wisata bahari, budaya, religi, kuliner, belanja, agro-ekowisata, olahraga, hingga sejarah.

Sambung  Ir Said Mahdum Majid, Kota Langsa sudah menjadi target dan incaran wisatawan lokal maupun manca negara untuk mengunjungi Kota Langsa yang menawarkan tempat wisata seperti Taman Bambu Runcing, Gedung Bale Juang yang memiliki situs sejarah, Taman Hutan Manggrove, Taman Hutan Lindung, Pulau Telaga Tujoh dan Pantai Pasir Putih.

Selain itu, terdapat juga Pelabuhan Kuala Langsa, Pantai Kuala Geulumpang, Pantai Kuala Parek, Mutiara Waterpark, Central Business District Kuliner Langsa, dan Wisata Echo Tourism Centre Of Cinta Raja, yang menjadi tuan rumah migrasi 33 spesies burung dari luar negeri.

“Dikenal sebagai Serambi Mekkah Aceh, daerah ini menjadi destinasi wisata halal utama. Aceh, dengan signifikansi keagamaannya dan penerapan hukum Islam, diprioritaskan untuk konsep pariwisata halal,” papar Said.

Lebih lanjut, pariwisata halal merupakan upaya berkelanjutan oleh Pemerintah Aceh untuk mengokohkan simbol halal yang telah lama dimiliki oleh daerah ini. Budaya unik, keindahan alam yang mempesona, dan kopi yang terkenal di seluruh dunia menjadi daya tarik tambahan.

Kemajuan teknologi dan informasi menjadi bagian integral dari pengembangan dan promosi pariwisata halal, terutama dengan diberlakukannya sertifikasi halal wajib untuk produk pada pertengahan Oktober 2024.

“Kami mendorong setiap pemilik usaha/UMKM yang menyediakan produk makanan dan minuman serta layanan penyembelihan untuk mendapatkan sertifikasi halal (gratis hingga Oktober 2024). Dalam perspektif pariwisata halal, bukanlah tentang mengubah objek wisata menjadi halal, melainkan memastikan bahwa makanan dan minuman yang ditawarkan di restoran, ketersediaan tempat ibadah, dan standar hotel sesuai dengan standar halal,” tegasnya.

Peluncuran Desa Wisata Halal dan implementasi Wajib Halal Oktober (WHO) 2024 di Langsa menandai langkah signifikan dalam memperluas pandangan pariwisata yang berkelanjutan. Ruang terbuka hijau tidak hanya berperan sebagai tempat untuk merayakan acara penting seperti ini, tetapi juga sebagai simbol keterlibatan aktif dalam pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait, Langsa membuktikan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan dan inklusivitas dalam pengembangan pariwisata, sambil tetap memperhatikan nilai-nilai keagamaan dan budaya yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Dengan memanfaatkan potensi ruang terbuka hijau, Langsa menciptakan panggung yang ideal untuk memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata halal yang unik dan menarik bagi pengunjung dari dalam dan luar negeri.